Agama dan Toleransi

‘kullu mauludin yuladu alal fitrah’. Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia) melainkan ia berada dalam keadaan suci (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi dan sebagainya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, yang terdiri dari berbagai macam suku, bangsa, bahasa, ras, budaya, dan agama. Indonesia yang berlandaskan ideologi Pancasila dan UUD 1945 mengajarkan bahwa kita diberi kebebasan untuk memilih dalam beragama.

Begitu juga islam yang membebaskan kita dalam memilih agama. ‘Lakum dinukim waliyadin’. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.

Dalam keadaan yang demikian ini sangat diperlukannya sebuah rasa persatuan dan kesatuan yang kuat antar sesama warga negara Indonesia. Toleransi beragama mempunyai peran yang sangat besar terhadap rasa nasionalisme dan kebangsaan dalam diri bangsa Indonesia.

Pada tubuh Pancasila masyarakat pada umumnya yang cenderung hanya mengikuti arus perkembangan zaman dan konsumtif. Dalam mengkonsumsi secara instan informasi yang didapat dari media online atau media sosial tanpa memfilternya, mengakibatkan gampangnya kita terkontaminasi atau terpropokasi oleh informasi yang kita dapat.

Media yang berkembang dengan pesat dan massif di Indonesia. Cenderung hanya digunakan sebagai interkasi online yang hanya menyebarkan kabar-kabar burung yang belum tentu keasliannya. Sehingga, sebagai kaum awam kita mudah untuk terpropaganda oleh kabar yang diterima.

Budaya literasi juga diuntungkan dengan adanya media sosial, karena melalui media tersebut, bisa dengan mudah mengembangkan tulisan-tulisannya.

Sebagai seorang muslim, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai agama islam. Terutama dalam menghargai antar suku, budaya dan umat beragama atau bahkan rasa toleransi lainnya.

Toleransi dalam beragama ini telah dicontohkan oleh Rashulullah shollallahu alaihi wasallam di Madinah, yaitu dengan adanya Piagam Madinah.

Allah SWT menciptakan bumi bukan hanya untuk satu agama saja, menciptakan makhluk dengan bentuk dan warnanya yang beragam. Sehingga Allah SWT tidak membenarkan adanya pendeskriminasian antar manusia.

Justru Allah menyuruh kita untuk untuk saling mengakui dan menghargai eksistensi keberagaman itu. ‘Ya ayyuhannasu inna kholaqnakum min dzakarin wa unsha wa ja’alnakum su’ubau waqobaila li ta’arofu’. Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuki-suku supaya kamu saling kenal mengenal.

Pemuda sebagai Agent of Change harus mengetahui dan menghargai makna keberagaman yang ada, terutama di Indonesia.

‘Irham turham’. Bersayang-sayanglah kalian, maka kalian akan disayang.

Serpong 03 Nobember 2017

Advertisements