REFLEKSI 1 TAHUN PMII KOMNIVPAM

Tampaknya, warga pergerakan sudah tidak sabar untuk mengganti kepengurusan. Bisa dilihat dengan terbentuknya kelompok-kelompok untuk mengusung satu calon. Sebenarnya tak ada yang salah dari kepengurusan ini, Cuma setiap pemimpin dikatakan akan lebih berhasil apabila mencetak lebih banyak pemimpin.

Sebagai organisasi pengkaderan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Pamulang, memang sudah seharusnya untuk mencetak lebih banyak lyder, agar organisasi ini lebih me-regenerasi.

Namun, pada kenyataannya, kepengurusan pertama ini, semenjak dilantiknya pada bulan maret 2017, saya melihatnya seperti ketakutan, mungkin takut PMII KOMNIVPAM ini akan mengalami kemunduruan bukan malah kemajuan. Mungkin karena sangat kurangnya pendewasaan dari anggota/kader.

Yang pasti setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya, begitu kata teman saya.

Seperti pada umumnya menyambut RTK (Rapat tahunan Komisariat) yang setiap setahun sekali dilakukan disetiap komisariat, berbagai maneuver politik mulai dilakukan oleh seorang calon, dari mulai blusukan ke anggota-anggota, pendekatan persuasive, dan melalui pendekatan asmara. Tak luput juga upaya saling menjatuhkan antara satu calon dengan calon yang lain, dari penggorangan isu gender, isu lain kampus, tidak ingin adanya sistem kerajaan (hirarki), sampai pada isu yang paling krusial yaitu politik praktis atau seperti biasa ada yang menunggangi seorang calon, entah itu partai ataupun sebuah organisasi.

Seorang pemimpin harus mempunyai mental yang kuat dan bersungguh-sungguh, karena akan dihadapkan dengan berbagai permasalahan dan hantaman dari organisasi lain. Dan tentu harus mengedepankan moralitas, karena “tanpa moralitas, politik hanya merupakan alat untuk mencapai kekuasaan dengan segala cara” kata Gus Dur. Sebagaimana filosofi salah satu syair dalam kitab al-Fiyah Ibnu Malik, yaitu;

بِلْجَرِّ وَالتَّنْوِنِ وَالنِّدَا وَاَئَلْ # وَ مُسْنَدٍ لِاْءِسْمِ تَمْيِزٌ حَصَلْ

Isim (derajat) yang tinggi bisa kita dapatkan :
Jer = dengan tunduk dan tawadhu (takholi) hilangkan persepsi negative yang ada dalam otak dan hati.
Tanwin = niat yang benar-benar mencari ridho Allah (tahalli) hiasi dengan watak yang baik.
Nida = (berdzikir)
Al = sebagai ciri kema’rifatan (berfikir).
Musnad Ilaihi (fa’il/mubtada) sebagai pelaku, amal yang nyata, tidak hanya sebagai retorika atau pengalaman tapi pengamalan.

Dari sya’ir tersebut, seorang pemimpin jika ingin mendapatkan kekuasaan yaitu dengan menunjukkan sikap tawadhu, niatkan murni karena mencari ridho Allah, berdzikir, dan berfikir. Menunjukkan bahwa dirinya memang pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Bukan dengan melakukan blusukan atau manuver-manuver politik lainnya.

Namun, ketika kita sudah tidak layak untuk menjadi pemimpin, kita tidak usah memaksakan diri untuk menjadi seorang pemimpin. Karena seorang itu bukanlah jiwa seorang pemimpin tapi jiwa seorang penguasa. Dan “di dunia ini, tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian” kata Gus Dur.

Entah bagaimanapun cara dan proses yang dilakukannya, semuanya sama dengan satu tujuan, yaitu untuk mengabdi di PMII, membawa PMII KOMNIVPAM menjadi lebih berkualitas, lebih progresif dan kembali solid tidak semakin terpecah belah. Yang kemudian itu menjadi harapan bagi anggota untuk kepengurusan selanjutnya.

GSA Cisauk, 12 Mei 2018

Advertisements

BUKTI, SENJA

Apakah hidup memang harus tak sesuai harapan.?

Tepat tgl 21 April kemaren, bersamaan dengan perayaan hari wanita yg sering disebut-sebut oleh kaum hawa, umurku bertambah. Diumurku yang ke 2 th ini, sedikit demi sedikit aku mulai mengerti apa yang orang dewasa katakan. Bahkan, aku mulai bisa memahami apa yang mereka rasakan.

Nenekku sangat menyayangiku, dia sangat telaten dalam merawatku. Memandikanku disetiap pagi dan senja, menepukkan bubuk putih ke wajah dan sekujur tubuhku, tak lupa dia juga mengusapkan cairan dari botol berwarna biru agar badanku terasa hangat.
Selalu begitu setiap pergantian siang menjadi malam, malam menjadi siang. Nenekku yg sudah berumur 73th, kulihat kulitnya semakin keriput, rambutnya berubah semakin memutih, giginya mulai hitam dan hilang satu persatu.

Matahari mulai memudar di barat, senja mulai menampakkan diri dengan warna merah jambunya.

“tok..tok..tok.” Suara ketok-ketok dari balik pintu.

“Assalamualaikum.”

Ternyata laki-laki tua ronta yang setiap senja menemani nenekku minum kopi. Kadang juga menggendongku. Akupun bertanya-bertanya, apakah dia yang mempunyai cerita tragis seperti yang biasa Ibu ceritakan kepada teman-temannya? Apakah dia yang membujang hingga menua? tentu dia bukan kakekku.

Kakekku meninggal saat ayah berumur delapan tahun, tentu nenekku masih muda tak seperti yang ku katakan. Setiap hari Ayah membantu Ibu berjualan kue lapis diseberang perempatan jalan pasar tradisional. Aku tak tau kapan Ibu dan Ayahku berangkat, tapi biasanya mereka pulang menjelang petang ketika nenek memandikanku.

“waalaiku salam” nenek menjawabnya.

***

Ayah putra sulung, Ia penjual kue lapis yang dulunya adalah profesi turun temurun keluargaku. Mulai dari Ibu Nenek, Nenek dan Ayahku. Dari penghasilan kue lapis, Nenek bisa mengenyam bangku pendidikan.

Tahun 1996 Maulida Amaliah lulus dari bangku Sekolah Lanjut Tingkat Atas, dalam cerita ini Ia adalah Nenekku. Ibunya memintanya untuk membantu berjualan kue lapis dipasar, Meskipun tak sesuai dengan yang Ia inginkan, melanjutkan sekolahnya diperguruan tinggi seperti teman-temannya.

Mauli tak banyak bicara, ia paham betul kondisi ekonomi keluarganya saat itu. Ayahnya pekerja pabrik tebu di Sidoarjo, Ia jarang mendapatkan ijin untuk pulang. Semenjak itu, Mauli membantu Ibunya berjualan kue lapis di pasar.

Matahari pagi merundung berselimut mendung, gemercik air berjatuhan menggenangi lubang-lubang dijalanan, kebisingan suara mesin, manusia yang sejak petang memadati sudut-sudut pasar. Seolah-olah menandakan kerasnya kehidupan.

Dari sebrang jalan terlihat seorang remaja memakai celana pendek dan kaos berkerah, Ia berjalan menuju kios berukuran 2×4 kala itu.

“mbak, minta kue lapisnya 500 ya?” kata remaja itu.

Mauli bergegas melayaninya, diambilnya kantong kresek putih didepannya, dibungkusnya tiga buah kue lapis. Laki-laki itu menyodorkan uang yang digenggamnya, begitu pula Mauli.

“terimakasih a.”

“sama sama mbak.” Abdul menjawabnya.

Benar saja Abdul terpikat melihat kecantikan Mauli membuatnya ingin kembali. Setiap pagi sambil menunggu Ibunya belanja, Abdul membeli kue lapis, ali-alih hanyan ingin bertemu Mauli. Abdul adalah remaja 19th, Ia 1th lebih tua dari Mauli, Ia orang baru di kampung Cibadak, salah satu kampung di Banten.

Orang-orang tak banyak yang mengenalinya, 3 minggu yang lalu Ia dan keluarganya baru pindahan, mereka perantau dari tanah Jawa.

Usahanya mendekati Mauli membuahkan hasil, Seminggu dari itu mereka saling menyukai. Ibu Mauli mengetahui hubungan mereka.

“jaga Mauli ya Dul, Ibu yakin kamu laki-laki yang baik.” pesannya pada Abdul.

Sehari.. Seminggu.. Sebulan Setahu.. mereka lalui. Mereka saling mencintai satu sama lain.Orang tua mereka saling menyetujui dan mendukung hubungan mereka. Umur mereka semakin dewasa, orang tua mereka ingin mereka lebih ke jenjang yang lebih serius. Tapi mereka tidak sempat memikirkan hal itu, mereka menikmati perjalanan cintanya.

“nanti juga akan tiba.” Mauli meyakinkan Abdul.

Sore itu seperti biasanya Abdul mengajak Mauli jalan-jalan. Sekitar 20 menit, Abdul mengayuh sepeda ontel yang berwarna lusuh. Mungkin sudah waktunya dimusiumkan, hehe.. melewati jalan berlubang, tanjakan, dan belokan. Sesekali Mauli menepuk pundak Abdul.

“pel..lan-pel..lan.” suara Mauli patah-patah karena jalanan rusak dan berlubang.

Kali ini danau disamping masjid Al-Falah menjadi tujuannya, dari kejauhan terlihat dipinggiran danau ramai dengan orang berpasang-pasangan, bergandeng tangan, senda gurau, dan senyuman menikmati keindaahan danau.

“tunggu sebentar ya, aku beli minum dulu” Abdul merobohkan sepedanya disamping pohon asam, lalu berjalan meninggalkannya.

Mauli menunggunya di batu yang bersender tepat dipinggir danau. Airnya yang jernih, ikan-ikan berwarna keemasan bermain didalamnya, melompat, dan memercikkan air. Matahari semakin memudar, kecerahannya kini berubah kemerah-merahan, warnanya semakin mempercantik keadaan danau.

“ini minumnya” Abdul menyodorkan botol minuman dan duduk disampingnya.

“iya” Mauli mengambilnya.

“senja didanau ini akan menjadi bukti.” matanya tajam menatap Mauli yang sedang menikmati keindahan danau.

“Aku ingin menjadi orang pertama melihat rambutmu berubah warna, kulitmu mengkerut dan gigimu mulai hitam dan menghilang” Abdul menggenggam erat tangan Mauli.

Mauli tersenyum bahagia.

***

Ayah Mauli yang sudah 3 hari datang dari luar kota, melihat anak gadisnya sudah beranjak dewasa, Ia ingin cepat-cepat menentukan tanggal pernikahan anak gadis semata wayangnya.

Ia mempercayai Badri, seorang tokoh didesa itu sekaligus teman dekatnya, dan paham betul dengan perhitungan Jawa yang biasa dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyangnya.

“28 hari lagi, Rabu Waghe tanggal 8 Rajab” menurut perhitungannya, hari itu adalah hari keberuntungan untuk kedua pasangan.

Mendengar kabar itu. Ayah dan Ibu Mauli melakukan segala persiapan, mereka yang mengurus semua persiapan pernikahan Mauli, dari undangan, tata rias, pakaian, hiburan dan barang-barang lainnya.

“tulis siapa saja teman-temanmu yang mau diundang” Ayah Mauli menyuruhnya.

“baik yah!” Mauli tak banyak bicara, Ia langsung menulisnya. Zuhri, Abdul Latif, Husni, Liana, dan lainnya. 19 nama tertera dikertas putih itu.

“dia mau kamu undang juga?” Ibunya berbisik.

Mauli mengangguk.

Undangan telah sampai ditangan penerima seminggu sebelumnya, segalanya sudah siap, dihalaman rumah (terof) biasa aku menyebutnya sudah rapi menjulang, dibalut kain warna merah dan terselip kain putih didalamnya. Tak lupa pohon pisang dan janur kuning telah melengkung.

Gaun putih bercorak batik-batik dengan konde diatas kepalanya, membuat penulis hampir tak mengenali Mauli. Diluar, tamu undangan sudah menanti kedatangannya untuk sekedar foto hitam putih. Ketika asyik foto-foto, mata Mauli terpojok pada sosok lelaki memakai batik dengan celana jeans yang bawahnya agak lebar mendekatinya.

“selamat ya, semoga kalian bahagia” tangannya digenggam erat.

“terimakasih sudah datang di acara pernikahan kami Abdul” Riski laki-laki pilihan ayah Mauli membalas genggaman erat Abdul.

GSA Cisauk, 24 April 2018

PETA ELEKTABILITAS CAWAPRES DI ERA MASYARAKAT MILENIAL

Abad 21, perkembangan teknologi semakin masif dan terstruktur. Maka, tak heran generasi ini sering disebut genarasi milenial.

Perkembangannya bukan hanya dari media massa koran, majalah, tabloid, radio dan televisi. Namun juga berkembang media online seiring dengan perkembangan internet yang sudah masuk di web generasi 2.0 dan 3.0. Melalui dunia maya, yang menyediakan berbagai situs dan aplikasinya, masyarakat terdorong untuk saling barbagi informasi, kritikan, himbauan, bahkan sampai pada gerakan aktual (bertemu secara fisik).

Ditahun politik ini, media online facebook, instgram, twitter, dan sebagainya, dimanfaatkan sebagai momentum oleh para elit politik. Dari media online tersebut para elit politik gencar memperkenalkan dirinya untuk kepentingan pemilihan capres cawapres 2019.

Presiden, sebutan orang pertama dalam sebuah negara, merupakan pusaran utama perhelatan politik dalam sebuah negara. Di mana Indonesia sedang menuju ke arah perhelatan politik yang tinggal hitungan bulan ini.

Seorang presiden tentu membutuhkan seorang pendamping (wakil presiden). Seorang wakil presiden sangat dibutuhkan untuk membantu dan mensukseskan apa yang telah menjadi tujuannya dari awal. Lebih dari pada itu, wakil presiden juga diharapkan untuk bisa menjadi magnet elektabilitas perhelatan politik nantinya.

Belakangan ini, semenjak diresmikannya 14 partai politik untuk ikut serta dalam pesta demokrasi, arus informasi seputar politik semakin menghangat.

Menghadapi tahun politik kali ini, masyarakat digiring oleh pihak-pihak tertentu terhadap framing isu sebagai berikut; presiden lama dengan wakil baru atau presiden baru dengan wakil baru.

Sejumlah survei menyebutkan bahwa kandidat Capres terkuat tak jauh beda dari tahun 2014. Diperkirakan Joko Widodo dan rivalnya Prabowo Subianto akan kembali bersaing untuk merebutkan kursi nomer 1 di Indonesia.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia sperti di lansir Republika.co.id Hanta Yudha mengatakan ada kecendrungan elektabilitas Jokowi-Prabowo naik sejak akhir tahun 2017 lalu. Pada November 2017 lalu, elektabilitas Jokowi berada pada angka 51,8 persen. Pada survei terakhir yang dilakukan Poltracking, elektabilitas Jokowi menjadi 55,9 persen, atau naik 4,1 persen. Sedangkan Prabowo, lawan politik Jokowi di pilpres 2014, pada November mengantongi elektabilitas 27 persen. Elektabilitasnya menjadi 29,9 persen atau naik 2,9 persen pada Februari 2018.

Dari survey di atas dapat di prediksi bahwa, di tahun politik ini yang akan menjadi kursi rebutan bukan lagi kursi presiden, melainkan ada pada posisi wakil Presiden. Calon wakil presiden 2019 datang dari berbagai latar belakang; militer, Islami, dan nasionalis.

Sejumlah politikus mulai melakukan barbagai manuver untuk memperkenalkan dirinya. Dari latar belakang tersebut, manuver politik akan menjadi menarik dan akan memetakan ruang lingkup politik khususnya pada corak komunikasi informasi yang dibangun.

Misalnya, jika seorang wakil presiden mengemasnya dengan nuansa kekinian, dan teknologi informasi dimanfaatkan secara maksimal, maka pilihan cawapres akan diperebutkan oleh kaum milenial, apa pun pendekatannya.

Meski pendaftaran calon presiden dan wakil presiden untuk Pilpres 2019 baru akan dibuka Agustus mendatang, Berbagai pendekatan sudah mulai dilakukan oleh para calon untuk mensosialisasikan dirinya sebagai cawapres. Memasuki masa pensiunnya sejak 1 April 2018 kemarin. Jendral Gatot Nurmantyo mantan Panglima TNI mendatangi berbagai media, tokoh politik, dan pesantren-pesantren untuk mensosialisasikan dirinya sebagai cawapres 2019.

Berdasarkan survei yang dilakukan Populi Center jika Gatot diusung sebagai calon wakil presiden, tingkat elektabilitasnya mencapai 4,2 persen. Perolehan ini di atas Anies Baswedan 4,1 persen, Muhaimin Iskandar 3,7 persen, dan Ridwan Kamil 3,0 persen.

Perjalanan Gatot tidaklah mudah dalam gelanggang pemilihan presiden 2019. Karena yang menjadi faktor utama, hingga kini Gatot belum mendapatkan dukungan dari partai politik yang akan mendaftarkannya sebagai capres atau cawapres.

Tidak hanya dari kalangan militer, Muhaimin Iskandar ketua umum PKB yang akrab dengan sapaan Cak Imin mendapat presentase tertinggi sebagai cawapres dari kalangan masyarakat Muslim. Cak Imin sejak jauh-jauh hari memang telah mensosialisasikan dirinya untuk menjadi cawapres 2019. Peluncuran buku SUDURISME (Sukarnoisme dan Gusdurisme) juga dianggap sebagai manuver untuk mengangkat namanya ke publik.

Hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dilansir dari Merdeka.com menyebutkan Cak Imin mendapatkan presentase suara sebesar 14,9 persen. Lebih tinggi dari empat calon lainnya yakni ketum PAN Zulkifli Hasan dengan 3,8 persen, ketua DPD Demokrat yang saat ini menjabat Gubernur NTB M Zainul Madji 2,2 persen, Presiden PKS Sohibul Iman 1,9 persen, dan ketum PPP Romahurmuzy 1,1 persen.

Agus Harimurti Yudoyono dari Partai Demokrat atau biasa dikenal dengan sebutan AHY tersebut dianggap sebagai tokoh muda yang sangat potensial untuk menjadi cawapres, semenjak pilgub DKI 2017 namanya muncul di publik, sebagai putra presiden ke 6 Susilo Bambang Yudoyono namanya semakin dikenal oleh masyarakat.

Alvara Research Center dilansir dari Kompas.com merilis hasil survey mengenai elektabilitas calon wakil presiden. Menyebutkan AHY menjadi nama teratas dengan elektabilitas mencapai 17,2 persen. Dibawah AHY ada mantan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo dengan 15,2 persen.

Bagaimanapun lembaga survei menapak-tilasi manuver politik beberapa calon di atas, semua akan ditentukan oleh khlayak. Masyarakat kemudian menjadi penentu utama ke-mana ia akan menambatkan pilihannya, khususnya bila dikaitkan dengan besaran elektabilitas calon wakil presiden. Itu disebabkan oleh masyarakat di era teknologi digital ini hampir semua melek media alias milenial. Maka, siapa saja yang bergerak secara apik di media, dialah yang berpotensi mendulang elektabilitas sebanyak-banyaknya.

GSA Cisauk, 08 April 2018

MAULI

“dari awal aku sudah yakin akan seperti ini, jadi memang ini salahku telah memberitahumu”.

***

Malam mulai larut, teman yang biasa memberinya tumpangan untuk pulang, malam itu sedang tidak bisa menjemputnya. Dari raut wajahnya terlihat dia sedang kecapean. ibu jarinya sibuk men-scroll hp yang digenggamnya, sesekali dia melihat jam di tangan kirinya.

Temanku menatapku, seolah-olah memberiku isyarat agar aku menawarinya tumpangan. Kebetulan malam itu aku sedang tidak ada tugas. Ku lihat jam di hp-ku jarum jam terpojok di angka 09.00. sudah terlalu larut untuk seorang perempuan.

“anterin tu dia” temanku berbisik.

Aku berpikir apakah dia akan terima jika aku menawarkannya tumpangan.

“mau dianter ga li?”

Teman-teman biasa memanggilnya Mauli, aku tak tau pasti siapa nama yang sebenarnya. ku dengar dari teman, dia adalah perempuan keturunan darah sunda. Mauli dikenal dengan tingkah lakunya yang sopan, cara berbicaranya yang halus, dan kecintaannya terhadap lingkungan.

Dalam sebuah buku sejarah diceritakan kerajaan yang tidak mau tunduk terhadap kerajaan Majapahit adalah kerajaan Sunda yaitu di Jawa Barat. Yang kemudian terjadi pertempuran antara kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada dengan kerajaan Sunda yang dipimpin oleh rajanya sendiri yaitu Sri Baduga.

Dalam buku tersebut diceritakan Gajah Mada mengadakan diplomasi secara kekeluargaan untuk menundukkan kerajaan Sunda. hayam Wuruk ingin melamar putri Sri Baduga yang bernama Dyah Pitaloka. Namun usaha Gajah Mada tetap tidak berhasil dan berujung pada peperangan. Peperangan 2 kerajaan ini kemudian disebut dengan perang Bubat. Jadi tidak diragukan lagi kecantikan perempuan Sunda.

Oy ini bukan pelajaran sejarah. O iya saya lupa. Hehe…

“hah…!” kaget mendengar ucapanku.

“emangnya kamu ga sibuk?” lanjutnya.

“nggak ko” jawabku.

“udah ayo aku anterin” aku coba mempertegasnya.

Aku berjalan menuju motor yang sejak sore terpakir dibawah pohon (baleci) aku biasa menyebutnya. Ku lihat, dia sedang menungguku.

“ayo naik” dengan malu-malu dia mendekat dan duduk dibelakangku.

Malam itu sangat dingin, jalanan mulai sepi dengan kendaraan yang biasa berlalu-lalang. Ku lihat langit terang bertabur bintang. Satu bintang dengan dwi malam melempar senyum keceriaan, seolah-olah dia ikut merayakan kegembiraan yang sedang kurasakan. Sepertinya aku mulai jatuh cinta pada malam.
***
Hari-hari ku jalani seperti biasanya, ke kampus, tempat kerja, dan nongkrong bersama teman-teman. Tak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Di semester ini aku mulai disibukkan dengan tugas-tugas akhir kampus. Aku menghabiskan malam-malamku untuk bercengkrama dengan tugas akhir, laptop, dan secangkir kopi.

Ada yang beda dengan malam itu. Hujan mulai reda dan mendatangkan rindu seperti embun berjatuhan mendatangkan dingin. Ku tarik selimut, ku ambil hp, ku lihat WhatsApp ada banyak pesan yang belum sempat ku balas. Pikiranku hanya ada satu nama.

“li..” panggilku dalam WhatsApp.

“iya kenapa?”.

Aku bingung harus balas apa, dan menjawabnya bagaimana. Sejak malam itu kira-kira setahun yang lalu, kita memang jarang berhubungan melalui media online. Selai bertemu langsung, Biasanya aku mengikutinya dari media online lainnya seperti Instagram dan Facebook, dari situ bisa kulihat foto-foto dari perjalanannya.
Entah apa yang merasukiku sehingga mendorongku berkata.

“aku mencintaimu”.

“cukup kamu tau saja” aku mempertegasnya.

Percakapan panjang lebar saat itu, dinginpun hampir tak terasa, terganti perasaan senang,ragu, dan canggung. Beberapa pertanyaan ia berikan padaku, dan aku menjawabnya sesuai dengan apa yang kurasa.

Minggu-minggu itu aku sering berada satu kegiatan dengannya. Berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya, seperti ada jurang pemisah untuk saling bertegor sapa. Namun, meskipun begitu aku tetap senang berada disampingnya. Begitu juga dengannya.

“hahaha…intinya aku selalu senang dekat denganmu”.
Sepenggal kalimat yang ia ucapkan melalui media online malam itu, dan mungkin akan terus teringat.

Seminggu berlalu, kita memang lebih sering ngobrol di media online dari pada berhadapan langsung. Karena jarak kita yang lumayan jauh ditambah rasa canggung ketika bertemu. Sebenarnya alasan aja biar disebut generasi milenial, hehe….

Ia belum memberiku jawaban meskipun kita sering bertemu. Sudah ku unggkapkan melalui media social dan melalui lisan. Namun, ia masih belum memberiku jawaban. Akhirnya, kukirimkan melalui tulisan, dan iapun merespon.

“ketika ada seseorang yang berjuang lebih lama untukku. Dan pada akhirnya waktu merubah segalanya, dari yang tidak ada menjadi ada. Aku tidak bisa membohongi perasaanku, bahwa aku lebih memilihnya”.

Akupun terdiam.

GSA Cisauk, 23 April 2018

Kacamata Tak Bersayap

Didepan toko yang sejak sore sudah tutup itu, dengan keadaan basah, aku duduk sendiri menghilangkan letih. Aku baru saja datang dari mengantarkan Rosi ke rumahnya.

Rosi adalah sahabat yang aku temui dari organisasi kemahasiswaan pada saat penerimaan anggota baru. Dia suka sekali berpuisi, sering juga membacakan puisi di suatu even yang diadakan anak-anak sastra. Semenjak dia mulai bekerja di suatu perusahan seley dia sering kecapean. Sehingga sore itu dia memintaku untuk mengantarkannya ke rumahnya.

Dari gubuk dibelakang sekolah itu, gubuk dimana aku mendapatkan banyak teman dan ilmu pastinya dan dipertemukan dengan seseorang keturunan hawa. Kulihat beberapa orang dengan keadaan rapi keluar dari gubuk itu. Melihatku duduk sendiri, merekapun menghampiriku.

“darimana kamu?” marsinah menghampiriku sambil menyodorkan tangannya padaku.

“habis nganter temen ke rumahnya” aku menjawab sambil menyalaminya.

“mau ikut saya ga?” katanya.

“mau kemana emang?” timpalku.

“kakak temen saya si Mansur tadi siang meninggal, saya sama teman-teman mau tahlilan dirumahnya” jawabnya.

“innalillahi” jawabku terkejut.

Mansur adalah sahabatku yang aku temui di organisasi kemahasiswaan, sama seperti ubay. Kakaknya adalah seorang jurnalis. belum lama ini dia sakit, katanya pembulu darah di otaknya pecah, entah apa penyebabnya.

“aku ga ada persiapan ini, besok saja insyaallah saya ikut” tambahku.

“o yaudah, kalo gitu saya jalan dulu”. marsinah menyalakan motor yang dia naikinya, dengan buru-buru, merekapun tancap gas dan pergi.

***
Malam itu begitu sunyi dan sepi, ku lihat ke langit tak ada satupun bintang yang bersinar. Tak seperti malam-malam sebelumnya, biasanya didepan rumah sambil menikmati secangkir kopi, dinginnya angin sepoy-sepoy, dan bunyi jangkrik kulihat indahnya sinar bintang ciptaannya. Malam itu aku bertanya-tanya, kemanakah bintang yang setiap malam aku lihat itu? Apakah dia sedang malu untuk menampakan dirinya? ataukah mendung menyelimutinya?

Sambil termenung, aku melepaskan tas yang sejak tadi masih aku gendong. Ku lihat dari kejauhan sebuah sinar terang mendekatiiku. Aku pikir itu adalah bintang yang setiap malam aku lihat, dahiku mengkerut penasaran, apakah benar sinar itu adalah bintang yang aku lihat setiap malam.

Sinar itu mulai dekat denganku, kupandangi dengan penuh tanda tanya, sesekali ku gosok mataku. Ternyata seorang hawa dengan memakai kacamata dan lipstip yang tidak terlalu memerah.

“habis gelap, terbitlah terang” begitu kata Ibu Kartini. Sedikit aku beri tahu siapa perempuan itu. Mila adalah perempuan keturunan Sunda, dia tidak begitu cantik. Namun, kecerdasannya, tingkah lakunya, dan tutur bicaranya membuat siapapun ingin tetap berada disampinya. Tidak jauh berbeda dengan Rosi dan Mansur, Mila adalah perempuan yang aku kenal di organisasi kemahasiswaan.

Pernah sekali aku mengantarnya pulang ke tepat tinggalnya yang lumayan jauh dari kampusnya, dengan pembicaran panjang lebar kali tinggi diperjalanan, sejak itu pula aku merasakan kenyamanan berada disampinya.

Perasaan itu aku rasakan sejak setahun yang lalu atau bahkan lebih, dan masih aku rasakan sampai hari ini. Aku pikir dia tidak akan pernah tau apa yang selama ini aku rasakan, dan aku rasa mengaguminya secara diam-diam adalah cara terbaik agar tidak merubah keadaan.

***

Pertanyaan dibenakku tentang cahaya itu seketika menghilang. Aku pikir dia akan menghampiriku, namun apa yang ada dipikiran tidak selalu beda dengan kenyataan. Berbeda dengan teman yang lain, dia hanyan melempar senyum padaku, lalu memasuki gubuk dibelakang sekolah itu.

Beberapa menit kemudian, dengan rasa penasaran aku beranjak dari tempat dudukku, menyusuri kegelapan lorong, melewati pagar, dengan penuh gelap kulihat dibalik ikan-ikan berenag, perempuan itu duduk sendiri dengan buku ditangannya. Dengan rasa canggung aku memberanikan diri menghampirinya.

Sunyi, ku lihat dia sedang asyik bercengkrama dengan buku yang digenggamnya. Entah buku apa yang sedang dia baca, sesekali dia tersenyum.

“tumben baca buku!” sapaku memberanikan diri.

“sebenarnya pengen baca aja, aku juga belum paham apa isi kandungannya” jawabnya sembari tersenyum.

“gimana mil?” tanyaku.

“gimana apanya?” di mengerutkan wajahnya.

“yang kemaren!” lanjutku.

Beberapa hari yang lalu, melalui media online WhatsApp tak sengaja aku memberi tahunya.

“yang mana?” dia semakin bingung.

“tanggapanmu tentang ucapanku yang kemaren?” aku mengaskan.

“aku tu orangnya pelupa, jadi kalau ga di ingatkan lagi, aku sulit untuk mengingatnya” jawabnya lirih.

Entah apakah dia benar lupa atau pura- pura tidak mengingatnya. Namun, dari raut wajah dan sorotan dibalik kacamatanya aku lihat dia memang tidak mengingatnya.

“a… aku menyukaimu!”

Dadaku berdegup kencang. senang, gugup, bercampur aduk. Hampir tak sadar apa yang aku ucapkan. Namun, dia telah mendengarnya. Dia tersenyum mendengar ucapanku.

GSA Cisauk, 21 Mei 2018

Agama dan Toleransi

‘kullu mauludin yuladu alal fitrah’. Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia) melainkan ia berada dalam keadaan suci (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi dan sebagainya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, yang terdiri dari berbagai macam suku, bangsa, bahasa, ras, budaya, dan agama. Indonesia yang berlandaskan ideologi Pancasila dan UUD 1945 mengajarkan bahwa kita diberi kebebasan untuk memilih dalam beragama.

Begitu juga islam yang membebaskan kita dalam memilih agama. ‘Lakum dinukim waliyadin’. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.

Dalam keadaan yang demikian ini sangat diperlukannya sebuah rasa persatuan dan kesatuan yang kuat antar sesama warga negara Indonesia. Toleransi beragama mempunyai peran yang sangat besar terhadap rasa nasionalisme dan kebangsaan dalam diri bangsa Indonesia.

Pada tubuh Pancasila masyarakat pada umumnya yang cenderung hanya mengikuti arus perkembangan zaman dan konsumtif. Dalam mengkonsumsi secara instan informasi yang didapat dari media online atau media sosial tanpa memfilternya, mengakibatkan gampangnya kita terkontaminasi atau terpropokasi oleh informasi yang kita dapat.

Media yang berkembang dengan pesat dan massif di Indonesia. Cenderung hanya digunakan sebagai interkasi online yang hanya menyebarkan kabar-kabar burung yang belum tentu keasliannya. Sehingga, sebagai kaum awam kita mudah untuk terpropaganda oleh kabar yang diterima.

Budaya literasi juga diuntungkan dengan adanya media sosial, karena melalui media tersebut, bisa dengan mudah mengembangkan tulisan-tulisannya.

Sebagai seorang muslim, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai agama islam. Terutama dalam menghargai antar suku, budaya dan umat beragama atau bahkan rasa toleransi lainnya.

Toleransi dalam beragama ini telah dicontohkan oleh Rashulullah shollallahu alaihi wasallam di Madinah, yaitu dengan adanya Piagam Madinah.

Allah SWT menciptakan bumi bukan hanya untuk satu agama saja, menciptakan makhluk dengan bentuk dan warnanya yang beragam. Sehingga Allah SWT tidak membenarkan adanya pendeskriminasian antar manusia.

Justru Allah menyuruh kita untuk untuk saling mengakui dan menghargai eksistensi keberagaman itu. ‘Ya ayyuhannasu inna kholaqnakum min dzakarin wa unsha wa ja’alnakum su’ubau waqobaila li ta’arofu’. Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuki-suku supaya kamu saling kenal mengenal.

Pemuda sebagai Agent of Change harus mengetahui dan menghargai makna keberagaman yang ada, terutama di Indonesia.

‘Irham turham’. Bersayang-sayanglah kalian, maka kalian akan disayang.

Serpong 03 Nobember 2017