Kacamata Tak Bersayap

Didepan toko yang sejak sore sudah tutup itu, dengan keadaan basah, aku duduk sendiri menghilangkan letih. Aku baru saja datang dari mengantarkan Rosi ke rumahnya.

Rosi adalah sahabat yang aku temui dari organisasi kemahasiswaan pada saat penerimaan anggota baru. Dia suka sekali berpuisi, sering juga membacakan puisi di suatu even yang diadakan anak-anak sastra. Semenjak dia mulai bekerja di suatu perusahan seley dia sering kecapean. Sehingga sore itu dia memintaku untuk mengantarkannya ke rumahnya.

Dari gubuk dibelakang sekolah itu, gubuk dimana aku mendapatkan banyak teman dan ilmu pastinya dan dipertemukan dengan seseorang keturunan hawa. Kulihat beberapa orang dengan keadaan rapi keluar dari gubuk itu. Melihatku duduk sendiri, merekapun menghampiriku.

“darimana kamu?” marsinah menghampiriku sambil menyodorkan tangannya padaku.

“habis nganter temen ke rumahnya” aku menjawab sambil menyalaminya.

“mau ikut saya ga?” katanya.

“mau kemana emang?” timpalku.

“kakak temen saya si Mansur tadi siang meninggal, saya sama teman-teman mau tahlilan dirumahnya” jawabnya.

“innalillahi” jawabku terkejut.

Mansur adalah sahabatku yang aku temui di organisasi kemahasiswaan, sama seperti ubay. Kakaknya adalah seorang jurnalis. belum lama ini dia sakit, katanya pembulu darah di otaknya pecah, entah apa penyebabnya.

“aku ga ada persiapan ini, besok saja insyaallah saya ikut” tambahku.

“o yaudah, kalo gitu saya jalan dulu”. marsinah menyalakan motor yang dia naikinya, dengan buru-buru, merekapun tancap gas dan pergi.

***
Malam itu begitu sunyi dan sepi, ku lihat ke langit tak ada satupun bintang yang bersinar. Tak seperti malam-malam sebelumnya, biasanya didepan rumah sambil menikmati secangkir kopi, dinginnya angin sepoy-sepoy, dan bunyi jangkrik kulihat indahnya sinar bintang ciptaannya. Malam itu aku bertanya-tanya, kemanakah bintang yang setiap malam aku lihat itu? Apakah dia sedang malu untuk menampakan dirinya? ataukah mendung menyelimutinya?

Sambil termenung, aku melepaskan tas yang sejak tadi masih aku gendong. Ku lihat dari kejauhan sebuah sinar terang mendekatiiku. Aku pikir itu adalah bintang yang setiap malam aku lihat, dahiku mengkerut penasaran, apakah benar sinar itu adalah bintang yang aku lihat setiap malam.

Sinar itu mulai dekat denganku, kupandangi dengan penuh tanda tanya, sesekali ku gosok mataku. Ternyata seorang hawa dengan memakai kacamata dan lipstip yang tidak terlalu memerah.

“habis gelap, terbitlah terang” begitu kata Ibu Kartini. Sedikit aku beri tahu siapa perempuan itu. Mila adalah perempuan keturunan Sunda, dia tidak begitu cantik. Namun, kecerdasannya, tingkah lakunya, dan tutur bicaranya membuat siapapun ingin tetap berada disampinya. Tidak jauh berbeda dengan Rosi dan Mansur, Mila adalah perempuan yang aku kenal di organisasi kemahasiswaan.

Pernah sekali aku mengantarnya pulang ke tepat tinggalnya yang lumayan jauh dari kampusnya, dengan pembicaran panjang lebar kali tinggi diperjalanan, sejak itu pula aku merasakan kenyamanan berada disampinya.

Perasaan itu aku rasakan sejak setahun yang lalu atau bahkan lebih, dan masih aku rasakan sampai hari ini. Aku pikir dia tidak akan pernah tau apa yang selama ini aku rasakan, dan aku rasa mengaguminya secara diam-diam adalah cara terbaik agar tidak merubah keadaan.

***

Pertanyaan dibenakku tentang cahaya itu seketika menghilang. Aku pikir dia akan menghampiriku, namun apa yang ada dipikiran tidak selalu beda dengan kenyataan. Berbeda dengan teman yang lain, dia hanyan melempar senyum padaku, lalu memasuki gubuk dibelakang sekolah itu.

Beberapa menit kemudian, dengan rasa penasaran aku beranjak dari tempat dudukku, menyusuri kegelapan lorong, melewati pagar, dengan penuh gelap kulihat dibalik ikan-ikan berenag, perempuan itu duduk sendiri dengan buku ditangannya. Dengan rasa canggung aku memberanikan diri menghampirinya.

Sunyi, ku lihat dia sedang asyik bercengkrama dengan buku yang digenggamnya. Entah buku apa yang sedang dia baca, sesekali dia tersenyum.

“tumben baca buku!” sapaku memberanikan diri.

“sebenarnya pengen baca aja, aku juga belum paham apa isi kandungannya” jawabnya sembari tersenyum.

“gimana mil?” tanyaku.

“gimana apanya?” di mengerutkan wajahnya.

“yang kemaren!” lanjutku.

Beberapa hari yang lalu, melalui media online WhatsApp tak sengaja aku memberi tahunya.

“yang mana?” dia semakin bingung.

“tanggapanmu tentang ucapanku yang kemaren?” aku mengaskan.

“aku tu orangnya pelupa, jadi kalau ga di ingatkan lagi, aku sulit untuk mengingatnya” jawabnya lirih.

Entah apakah dia benar lupa atau pura- pura tidak mengingatnya. Namun, dari raut wajah dan sorotan dibalik kacamatanya aku lihat dia memang tidak mengingatnya.

“a… aku menyukaimu!”

Dadaku berdegup kencang. senang, gugup, bercampur aduk. Hampir tak sadar apa yang aku ucapkan. Namun, dia telah mendengarnya. Dia tersenyum mendengar ucapanku.

GSA Cisauk, 21 Mei 2018

Advertisements

Author: m_alfatoni

Dzikir, Fikir, Amal sholeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s