MAULI

“dari awal aku sudah yakin akan seperti ini, jadi memang ini salahku telah memberitahumu”.

***

Malam mulai larut, teman yang biasa memberinya tumpangan untuk pulang, malam itu sedang tidak bisa menjemputnya. Dari raut wajahnya terlihat dia sedang kecapean. ibu jarinya sibuk men-scroll hp yang digenggamnya, sesekali dia melihat jam di tangan kirinya.

Temanku menatapku, seolah-olah memberiku isyarat agar aku menawarinya tumpangan. Kebetulan malam itu aku sedang tidak ada tugas. Ku lihat jam di hp-ku jarum jam terpojok di angka 09.00. sudah terlalu larut untuk seorang perempuan.

“anterin tu dia” temanku berbisik.

Aku berpikir apakah dia akan terima jika aku menawarkannya tumpangan.

“mau dianter ga li?”

Teman-teman biasa memanggilnya Mauli, aku tak tau pasti siapa nama yang sebenarnya. ku dengar dari teman, dia adalah perempuan keturunan darah sunda. Mauli dikenal dengan tingkah lakunya yang sopan, cara berbicaranya yang halus, dan kecintaannya terhadap lingkungan.

Dalam sebuah buku sejarah diceritakan kerajaan yang tidak mau tunduk terhadap kerajaan Majapahit adalah kerajaan Sunda yaitu di Jawa Barat. Yang kemudian terjadi pertempuran antara kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada dengan kerajaan Sunda yang dipimpin oleh rajanya sendiri yaitu Sri Baduga.

Dalam buku tersebut diceritakan Gajah Mada mengadakan diplomasi secara kekeluargaan untuk menundukkan kerajaan Sunda. hayam Wuruk ingin melamar putri Sri Baduga yang bernama Dyah Pitaloka. Namun usaha Gajah Mada tetap tidak berhasil dan berujung pada peperangan. Peperangan 2 kerajaan ini kemudian disebut dengan perang Bubat. Jadi tidak diragukan lagi kecantikan perempuan Sunda.

Oy ini bukan pelajaran sejarah. O iya saya lupa. Hehe…

“hah…!” kaget mendengar ucapanku.

“emangnya kamu ga sibuk?” lanjutnya.

“nggak ko” jawabku.

“udah ayo aku anterin” aku coba mempertegasnya.

Aku berjalan menuju motor yang sejak sore terpakir dibawah pohon (baleci) aku biasa menyebutnya. Ku lihat, dia sedang menungguku.

“ayo naik” dengan malu-malu dia mendekat dan duduk dibelakangku.

Malam itu sangat dingin, jalanan mulai sepi dengan kendaraan yang biasa berlalu-lalang. Ku lihat langit terang bertabur bintang. Satu bintang dengan dwi malam melempar senyum keceriaan, seolah-olah dia ikut merayakan kegembiraan yang sedang kurasakan. Sepertinya aku mulai jatuh cinta pada malam.
***
Hari-hari ku jalani seperti biasanya, ke kampus, tempat kerja, dan nongkrong bersama teman-teman. Tak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Di semester ini aku mulai disibukkan dengan tugas-tugas akhir kampus. Aku menghabiskan malam-malamku untuk bercengkrama dengan tugas akhir, laptop, dan secangkir kopi.

Ada yang beda dengan malam itu. Hujan mulai reda dan mendatangkan rindu seperti embun berjatuhan mendatangkan dingin. Ku tarik selimut, ku ambil hp, ku lihat WhatsApp ada banyak pesan yang belum sempat ku balas. Pikiranku hanya ada satu nama.

“li..” panggilku dalam WhatsApp.

“iya kenapa?”.

Aku bingung harus balas apa, dan menjawabnya bagaimana. Sejak malam itu kira-kira setahun yang lalu, kita memang jarang berhubungan melalui media online. Selai bertemu langsung, Biasanya aku mengikutinya dari media online lainnya seperti Instagram dan Facebook, dari situ bisa kulihat foto-foto dari perjalanannya.
Entah apa yang merasukiku sehingga mendorongku berkata.

“aku mencintaimu”.

“cukup kamu tau saja” aku mempertegasnya.

Percakapan panjang lebar saat itu, dinginpun hampir tak terasa, terganti perasaan senang,ragu, dan canggung. Beberapa pertanyaan ia berikan padaku, dan aku menjawabnya sesuai dengan apa yang kurasa.

Minggu-minggu itu aku sering berada satu kegiatan dengannya. Berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya, seperti ada jurang pemisah untuk saling bertegor sapa. Namun, meskipun begitu aku tetap senang berada disampingnya. Begitu juga dengannya.

“hahaha…intinya aku selalu senang dekat denganmu”.
Sepenggal kalimat yang ia ucapkan melalui media online malam itu, dan mungkin akan terus teringat.

Seminggu berlalu, kita memang lebih sering ngobrol di media online dari pada berhadapan langsung. Karena jarak kita yang lumayan jauh ditambah rasa canggung ketika bertemu. Sebenarnya alasan aja biar disebut generasi milenial, hehe….

Ia belum memberiku jawaban meskipun kita sering bertemu. Sudah ku unggkapkan melalui media social dan melalui lisan. Namun, ia masih belum memberiku jawaban. Akhirnya, kukirimkan melalui tulisan, dan iapun merespon.

“ketika ada seseorang yang berjuang lebih lama untukku. Dan pada akhirnya waktu merubah segalanya, dari yang tidak ada menjadi ada. Aku tidak bisa membohongi perasaanku, bahwa aku lebih memilihnya”.

Akupun terdiam.

GSA Cisauk, 23 April 2018

Advertisements

Author: m_alfatoni

Dzikir, Fikir, Amal sholeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s