PETA ELEKTABILITAS CAWAPRES DI ERA MASYARAKAT MILENIAL

Abad 21, perkembangan teknologi semakin masif dan terstruktur. Maka, tak heran generasi ini sering disebut genarasi milenial.

Perkembangannya bukan hanya dari media massa koran, majalah, tabloid, radio dan televisi. Namun juga berkembang media online seiring dengan perkembangan internet yang sudah masuk di web generasi 2.0 dan 3.0. Melalui dunia maya, yang menyediakan berbagai situs dan aplikasinya, masyarakat terdorong untuk saling barbagi informasi, kritikan, himbauan, bahkan sampai pada gerakan aktual (bertemu secara fisik).

Ditahun politik ini, media online facebook, instgram, twitter, dan sebagainya, dimanfaatkan sebagai momentum oleh para elit politik. Dari media online tersebut para elit politik gencar memperkenalkan dirinya untuk kepentingan pemilihan capres cawapres 2019.

Presiden, sebutan orang pertama dalam sebuah negara, merupakan pusaran utama perhelatan politik dalam sebuah negara. Di mana Indonesia sedang menuju ke arah perhelatan politik yang tinggal hitungan bulan ini.

Seorang presiden tentu membutuhkan seorang pendamping (wakil presiden). Seorang wakil presiden sangat dibutuhkan untuk membantu dan mensukseskan apa yang telah menjadi tujuannya dari awal. Lebih dari pada itu, wakil presiden juga diharapkan untuk bisa menjadi magnet elektabilitas perhelatan politik nantinya.

Belakangan ini, semenjak diresmikannya 14 partai politik untuk ikut serta dalam pesta demokrasi, arus informasi seputar politik semakin menghangat.

Menghadapi tahun politik kali ini, masyarakat digiring oleh pihak-pihak tertentu terhadap framing isu sebagai berikut; presiden lama dengan wakil baru atau presiden baru dengan wakil baru.

Sejumlah survei menyebutkan bahwa kandidat Capres terkuat tak jauh beda dari tahun 2014. Diperkirakan Joko Widodo dan rivalnya Prabowo Subianto akan kembali bersaing untuk merebutkan kursi nomer 1 di Indonesia.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia sperti di lansir Republika.co.id Hanta Yudha mengatakan ada kecendrungan elektabilitas Jokowi-Prabowo naik sejak akhir tahun 2017 lalu. Pada November 2017 lalu, elektabilitas Jokowi berada pada angka 51,8 persen. Pada survei terakhir yang dilakukan Poltracking, elektabilitas Jokowi menjadi 55,9 persen, atau naik 4,1 persen. Sedangkan Prabowo, lawan politik Jokowi di pilpres 2014, pada November mengantongi elektabilitas 27 persen. Elektabilitasnya menjadi 29,9 persen atau naik 2,9 persen pada Februari 2018.

Dari survey di atas dapat di prediksi bahwa, di tahun politik ini yang akan menjadi kursi rebutan bukan lagi kursi presiden, melainkan ada pada posisi wakil Presiden. Calon wakil presiden 2019 datang dari berbagai latar belakang; militer, Islami, dan nasionalis.

Sejumlah politikus mulai melakukan barbagai manuver untuk memperkenalkan dirinya. Dari latar belakang tersebut, manuver politik akan menjadi menarik dan akan memetakan ruang lingkup politik khususnya pada corak komunikasi informasi yang dibangun.

Misalnya, jika seorang wakil presiden mengemasnya dengan nuansa kekinian, dan teknologi informasi dimanfaatkan secara maksimal, maka pilihan cawapres akan diperebutkan oleh kaum milenial, apa pun pendekatannya.

Meski pendaftaran calon presiden dan wakil presiden untuk Pilpres 2019 baru akan dibuka Agustus mendatang, Berbagai pendekatan sudah mulai dilakukan oleh para calon untuk mensosialisasikan dirinya sebagai cawapres. Memasuki masa pensiunnya sejak 1 April 2018 kemarin. Jendral Gatot Nurmantyo mantan Panglima TNI mendatangi berbagai media, tokoh politik, dan pesantren-pesantren untuk mensosialisasikan dirinya sebagai cawapres 2019.

Berdasarkan survei yang dilakukan Populi Center jika Gatot diusung sebagai calon wakil presiden, tingkat elektabilitasnya mencapai 4,2 persen. Perolehan ini di atas Anies Baswedan 4,1 persen, Muhaimin Iskandar 3,7 persen, dan Ridwan Kamil 3,0 persen.

Perjalanan Gatot tidaklah mudah dalam gelanggang pemilihan presiden 2019. Karena yang menjadi faktor utama, hingga kini Gatot belum mendapatkan dukungan dari partai politik yang akan mendaftarkannya sebagai capres atau cawapres.

Tidak hanya dari kalangan militer, Muhaimin Iskandar ketua umum PKB yang akrab dengan sapaan Cak Imin mendapat presentase tertinggi sebagai cawapres dari kalangan masyarakat Muslim. Cak Imin sejak jauh-jauh hari memang telah mensosialisasikan dirinya untuk menjadi cawapres 2019. Peluncuran buku SUDURISME (Sukarnoisme dan Gusdurisme) juga dianggap sebagai manuver untuk mengangkat namanya ke publik.

Hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dilansir dari Merdeka.com menyebutkan Cak Imin mendapatkan presentase suara sebesar 14,9 persen. Lebih tinggi dari empat calon lainnya yakni ketum PAN Zulkifli Hasan dengan 3,8 persen, ketua DPD Demokrat yang saat ini menjabat Gubernur NTB M Zainul Madji 2,2 persen, Presiden PKS Sohibul Iman 1,9 persen, dan ketum PPP Romahurmuzy 1,1 persen.

Agus Harimurti Yudoyono dari Partai Demokrat atau biasa dikenal dengan sebutan AHY tersebut dianggap sebagai tokoh muda yang sangat potensial untuk menjadi cawapres, semenjak pilgub DKI 2017 namanya muncul di publik, sebagai putra presiden ke 6 Susilo Bambang Yudoyono namanya semakin dikenal oleh masyarakat.

Alvara Research Center dilansir dari Kompas.com merilis hasil survey mengenai elektabilitas calon wakil presiden. Menyebutkan AHY menjadi nama teratas dengan elektabilitas mencapai 17,2 persen. Dibawah AHY ada mantan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo dengan 15,2 persen.

Bagaimanapun lembaga survei menapak-tilasi manuver politik beberapa calon di atas, semua akan ditentukan oleh khlayak. Masyarakat kemudian menjadi penentu utama ke-mana ia akan menambatkan pilihannya, khususnya bila dikaitkan dengan besaran elektabilitas calon wakil presiden. Itu disebabkan oleh masyarakat di era teknologi digital ini hampir semua melek media alias milenial. Maka, siapa saja yang bergerak secara apik di media, dialah yang berpotensi mendulang elektabilitas sebanyak-banyaknya.

GSA Cisauk, 08 April 2018

Advertisements

Author: m_alfatoni

Dzikir, Fikir, Amal sholeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s