BUKTI, SENJA

Apakah hidup memang harus tak sesuai harapan.?

Tepat tgl 21 April kemaren, bersamaan dengan perayaan hari wanita yg sering disebut-sebut oleh kaum hawa, umurku bertambah. Diumurku yang ke 2 th ini, sedikit demi sedikit aku mulai mengerti apa yang orang dewasa katakan. Bahkan, aku mulai bisa memahami apa yang mereka rasakan.

Nenekku sangat menyayangiku, dia sangat telaten dalam merawatku. Memandikanku disetiap pagi dan senja, menepukkan bubuk putih ke wajah dan sekujur tubuhku, tak lupa dia juga mengusapkan cairan dari botol berwarna biru agar badanku terasa hangat.
Selalu begitu setiap pergantian siang menjadi malam, malam menjadi siang. Nenekku yg sudah berumur 73th, kulihat kulitnya semakin keriput, rambutnya berubah semakin memutih, giginya mulai hitam dan hilang satu persatu.

Matahari mulai memudar di barat, senja mulai menampakkan diri dengan warna merah jambunya.

“tok..tok..tok.” Suara ketok-ketok dari balik pintu.

“Assalamualaikum.”

Ternyata laki-laki tua ronta yang setiap senja menemani nenekku minum kopi. Kadang juga menggendongku. Akupun bertanya-bertanya, apakah dia yang mempunyai cerita tragis seperti yang biasa Ibu ceritakan kepada teman-temannya? Apakah dia yang membujang hingga menua? tentu dia bukan kakekku.

Kakekku meninggal saat ayah berumur delapan tahun, tentu nenekku masih muda tak seperti yang ku katakan. Setiap hari Ayah membantu Ibu berjualan kue lapis diseberang perempatan jalan pasar tradisional. Aku tak tau kapan Ibu dan Ayahku berangkat, tapi biasanya mereka pulang menjelang petang ketika nenek memandikanku.

“waalaiku salam” nenek menjawabnya.

***

Ayah putra sulung, Ia penjual kue lapis yang dulunya adalah profesi turun temurun keluargaku. Mulai dari Ibu Nenek, Nenek dan Ayahku. Dari penghasilan kue lapis, Nenek bisa mengenyam bangku pendidikan.

Tahun 1996 Maulida Amaliah lulus dari bangku Sekolah Lanjut Tingkat Atas, dalam cerita ini Ia adalah Nenekku. Ibunya memintanya untuk membantu berjualan kue lapis dipasar, Meskipun tak sesuai dengan yang Ia inginkan, melanjutkan sekolahnya diperguruan tinggi seperti teman-temannya.

Mauli tak banyak bicara, ia paham betul kondisi ekonomi keluarganya saat itu. Ayahnya pekerja pabrik tebu di Sidoarjo, Ia jarang mendapatkan ijin untuk pulang. Semenjak itu, Mauli membantu Ibunya berjualan kue lapis di pasar.

Matahari pagi merundung berselimut mendung, gemercik air berjatuhan menggenangi lubang-lubang dijalanan, kebisingan suara mesin, manusia yang sejak petang memadati sudut-sudut pasar. Seolah-olah menandakan kerasnya kehidupan.

Dari sebrang jalan terlihat seorang remaja memakai celana pendek dan kaos berkerah, Ia berjalan menuju kios berukuran 2×4 kala itu.

“mbak, minta kue lapisnya 500 ya?” kata remaja itu.

Mauli bergegas melayaninya, diambilnya kantong kresek putih didepannya, dibungkusnya tiga buah kue lapis. Laki-laki itu menyodorkan uang yang digenggamnya, begitu pula Mauli.

“terimakasih a.”

“sama sama mbak.” Abdul menjawabnya.

Benar saja Abdul terpikat melihat kecantikan Mauli membuatnya ingin kembali. Setiap pagi sambil menunggu Ibunya belanja, Abdul membeli kue lapis, ali-alih hanyan ingin bertemu Mauli. Abdul adalah remaja 19th, Ia 1th lebih tua dari Mauli, Ia orang baru di kampung Cibadak, salah satu kampung di Banten.

Orang-orang tak banyak yang mengenalinya, 3 minggu yang lalu Ia dan keluarganya baru pindahan, mereka perantau dari tanah Jawa.

Usahanya mendekati Mauli membuahkan hasil, Seminggu dari itu mereka saling menyukai. Ibu Mauli mengetahui hubungan mereka.

“jaga Mauli ya Dul, Ibu yakin kamu laki-laki yang baik.” pesannya pada Abdul.

Sehari.. Seminggu.. Sebulan Setahu.. mereka lalui. Mereka saling mencintai satu sama lain.Orang tua mereka saling menyetujui dan mendukung hubungan mereka. Umur mereka semakin dewasa, orang tua mereka ingin mereka lebih ke jenjang yang lebih serius. Tapi mereka tidak sempat memikirkan hal itu, mereka menikmati perjalanan cintanya.

“nanti juga akan tiba.” Mauli meyakinkan Abdul.

Sore itu seperti biasanya Abdul mengajak Mauli jalan-jalan. Sekitar 20 menit, Abdul mengayuh sepeda ontel yang berwarna lusuh. Mungkin sudah waktunya dimusiumkan, hehe.. melewati jalan berlubang, tanjakan, dan belokan. Sesekali Mauli menepuk pundak Abdul.

“pel..lan-pel..lan.” suara Mauli patah-patah karena jalanan rusak dan berlubang.

Kali ini danau disamping masjid Al-Falah menjadi tujuannya, dari kejauhan terlihat dipinggiran danau ramai dengan orang berpasang-pasangan, bergandeng tangan, senda gurau, dan senyuman menikmati keindaahan danau.

“tunggu sebentar ya, aku beli minum dulu” Abdul merobohkan sepedanya disamping pohon asam, lalu berjalan meninggalkannya.

Mauli menunggunya di batu yang bersender tepat dipinggir danau. Airnya yang jernih, ikan-ikan berwarna keemasan bermain didalamnya, melompat, dan memercikkan air. Matahari semakin memudar, kecerahannya kini berubah kemerah-merahan, warnanya semakin mempercantik keadaan danau.

“ini minumnya” Abdul menyodorkan botol minuman dan duduk disampingnya.

“iya” Mauli mengambilnya.

“senja didanau ini akan menjadi bukti.” matanya tajam menatap Mauli yang sedang menikmati keindahan danau.

“Aku ingin menjadi orang pertama melihat rambutmu berubah warna, kulitmu mengkerut dan gigimu mulai hitam dan menghilang” Abdul menggenggam erat tangan Mauli.

Mauli tersenyum bahagia.

***

Ayah Mauli yang sudah 3 hari datang dari luar kota, melihat anak gadisnya sudah beranjak dewasa, Ia ingin cepat-cepat menentukan tanggal pernikahan anak gadis semata wayangnya.

Ia mempercayai Badri, seorang tokoh didesa itu sekaligus teman dekatnya, dan paham betul dengan perhitungan Jawa yang biasa dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyangnya.

“28 hari lagi, Rabu Waghe tanggal 8 Rajab” menurut perhitungannya, hari itu adalah hari keberuntungan untuk kedua pasangan.

Mendengar kabar itu. Ayah dan Ibu Mauli melakukan segala persiapan, mereka yang mengurus semua persiapan pernikahan Mauli, dari undangan, tata rias, pakaian, hiburan dan barang-barang lainnya.

“tulis siapa saja teman-temanmu yang mau diundang” Ayah Mauli menyuruhnya.

“baik yah!” Mauli tak banyak bicara, Ia langsung menulisnya. Zuhri, Abdul Latif, Husni, Liana, dan lainnya. 19 nama tertera dikertas putih itu.

“dia mau kamu undang juga?” Ibunya berbisik.

Mauli mengangguk.

Undangan telah sampai ditangan penerima seminggu sebelumnya, segalanya sudah siap, dihalaman rumah (terof) biasa aku menyebutnya sudah rapi menjulang, dibalut kain warna merah dan terselip kain putih didalamnya. Tak lupa pohon pisang dan janur kuning telah melengkung.

Gaun putih bercorak batik-batik dengan konde diatas kepalanya, membuat penulis hampir tak mengenali Mauli. Diluar, tamu undangan sudah menanti kedatangannya untuk sekedar foto hitam putih. Ketika asyik foto-foto, mata Mauli terpojok pada sosok lelaki memakai batik dengan celana jeans yang bawahnya agak lebar mendekatinya.

“selamat ya, semoga kalian bahagia” tangannya digenggam erat.

“terimakasih sudah datang di acara pernikahan kami Abdul” Riski laki-laki pilihan ayah Mauli membalas genggaman erat Abdul.

GSA Cisauk, 24 April 2018

Advertisements

Author: m_alfatoni

Dzikir, Fikir, Amal sholeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s