REFLEKSI 1 TAHUN PMII KOMNIVPAM

Tampaknya, warga pergerakan sudah tidak sabar untuk mengganti kepengurusan. Bisa dilihat dengan terbentuknya kelompok-kelompok untuk mengusung satu calon. Sebenarnya tak ada yang salah dari kepengurusan ini, Cuma setiap pemimpin dikatakan akan lebih berhasil apabila mencetak lebih banyak pemimpin.

Sebagai organisasi pengkaderan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Pamulang, memang sudah seharusnya untuk mencetak lebih banyak lyder, agar organisasi ini lebih me-regenerasi.

Namun, pada kenyataannya, kepengurusan pertama ini, semenjak dilantiknya pada bulan maret 2017, saya melihatnya seperti ketakutan, mungkin takut PMII KOMNIVPAM ini akan mengalami kemunduruan bukan malah kemajuan. Mungkin karena sangat kurangnya pendewasaan dari anggota/kader.

Yang pasti setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya, begitu kata teman saya.

Seperti pada umumnya menyambut RTK (Rapat tahunan Komisariat) yang setiap setahun sekali dilakukan disetiap komisariat, berbagai maneuver politik mulai dilakukan oleh seorang calon, dari mulai blusukan ke anggota-anggota, pendekatan persuasive, dan melalui pendekatan asmara. Tak luput juga upaya saling menjatuhkan antara satu calon dengan calon yang lain, dari penggorangan isu gender, isu lain kampus, tidak ingin adanya sistem kerajaan (hirarki), sampai pada isu yang paling krusial yaitu politik praktis atau seperti biasa ada yang menunggangi seorang calon, entah itu partai ataupun sebuah organisasi.

Seorang pemimpin harus mempunyai mental yang kuat dan bersungguh-sungguh, karena akan dihadapkan dengan berbagai permasalahan dan hantaman dari organisasi lain. Dan tentu harus mengedepankan moralitas, karena “tanpa moralitas, politik hanya merupakan alat untuk mencapai kekuasaan dengan segala cara” kata Gus Dur. Sebagaimana filosofi salah satu syair dalam kitab al-Fiyah Ibnu Malik, yaitu;

بِلْجَرِّ وَالتَّنْوِنِ وَالنِّدَا وَاَئَلْ # وَ مُسْنَدٍ لِاْءِسْمِ تَمْيِزٌ حَصَلْ

Isim (derajat) yang tinggi bisa kita dapatkan :
Jer = dengan tunduk dan tawadhu (takholi) hilangkan persepsi negative yang ada dalam otak dan hati.
Tanwin = niat yang benar-benar mencari ridho Allah (tahalli) hiasi dengan watak yang baik.
Nida = (berdzikir)
Al = sebagai ciri kema’rifatan (berfikir).
Musnad Ilaihi (fa’il/mubtada) sebagai pelaku, amal yang nyata, tidak hanya sebagai retorika atau pengalaman tapi pengamalan.

Dari sya’ir tersebut, seorang pemimpin jika ingin mendapatkan kekuasaan yaitu dengan menunjukkan sikap tawadhu, niatkan murni karena mencari ridho Allah, berdzikir, dan berfikir. Menunjukkan bahwa dirinya memang pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Bukan dengan melakukan blusukan atau manuver-manuver politik lainnya.

Namun, ketika kita sudah tidak layak untuk menjadi pemimpin, kita tidak usah memaksakan diri untuk menjadi seorang pemimpin. Karena seorang itu bukanlah jiwa seorang pemimpin tapi jiwa seorang penguasa. Dan “di dunia ini, tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian” kata Gus Dur.

Entah bagaimanapun cara dan proses yang dilakukannya, semuanya sama dengan satu tujuan, yaitu untuk mengabdi di PMII, membawa PMII KOMNIVPAM menjadi lebih berkualitas, lebih progresif dan kembali solid tidak semakin terpecah belah. Yang kemudian itu menjadi harapan bagi anggota untuk kepengurusan selanjutnya.

GSA Cisauk, 12 Mei 2018

Advertisements

Author: m_alfatoni

Dzikir, Fikir, Amal sholeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s