BANDUNG DESTINASI PERPISAHAN

Jarak terciptakan lara, terkadang rindu menghadirkan luka. Doa seorang perempuan itu akan selalu terselip dalam kesunyian malam-malam yang dilaluinya. Mereka saling mencintai meskipun ruang dan waktu, begitupun jarak semakin memisahkannya.
Ujian akhir sekolah telah selesai.
Namamu Maulia Sri Rahayu, perempuan desa yang tumbuh dan besar di pinggiran sungai Serayu. Tempat dimana Kamu terakhir bertemu dengan kekasihmu Arga Dwi Putra. Sebelum akhirnya kekasihmu itu pergi untuk melanjutkan kuliahnya di suatu perguruan tinggi di Bandung Jawa Barat.
“Lia, aku harus menuruti permintaan Ibuku.”
“Aku harus melanjutkan kuliahku.” Tangan Arga membelai rambut lurusmu. Mereka yang berhadapan, saling bertatapan. Matamu memperlihatkan kesedihan mendalam.
“Terus bagaimana denganku?” matamu berkaca-kaca.
“Kita akan tetap bersama Lia.”
“Percayalah. Jarak tak akan mampu menjadi alasan untuk aku tidak mencintaimu.” Arga meyakinkannya.
Percakapan tidak terlalu panjang, air matamu telah jatuh bersamaan dengan kepergian Arga. Senja memancarkan keindahan dan mengalir membasahi pipimu.
Perpisahan tetap akan menjadi sejarah kelam yang tak akan pernah terulang. Namun akan tetap dikenang. Seperti perjalanan sepasang kekasih yang bertahun-tahun memadu kasih, namun harus berpisah dalam keadaan saling mencintai. Apakah cinta memang harus seperti ini? Cinta yang tumbuh dari beberapa pertemuan dan berahir untuk saling melupakan.
Melupakan?mungkinkah mereka akan saling melupakan?Akupun tak tahu bagaimana kisah cintamu ini.
***
Satu tahun berlalu, melalui pesan singkat kalian saling berbalas pesan. Sesekali Arga pulang untuk sekedar berlibur, tapi tidak sempat menemuimu karena Kamu sibuk akan menghadapi ujian. Kemudian kembali lagi untuk melajutkan kuliahnya.
Kali ini Kamu juga sudah lulus SMA, Kamu juga akan melanjutkan sekolahmu ke perguruan tinggi di Banten. Jarak akan semakin jauh memisahkan, tapi kalian masih tetap saling mencintai. Kamu berencana akan menemui Arga jika libur kuliah tiba.
“Kita akan bertemu saat liburan tiba.”
“Iya Lia, aku menunggumu.” Arga membelas pesan.
Dua bulan beralalu, seminggu lagi Ujian Akhir Semester akan dilaksanakan. Itu artinya liburan juga akan tiba. Sejak awal Kamu masuk kuliah, Kamu sudah berniat untuk pergi ke Bandung menemui Arga kekasihmu. Segalanya sudah Kamu persiapkan. Dari mengumpulkan uang dicelengan warna biru berbentuk ayam. Yang akhirnya Kamu pecahkan.
Sambil menunggu Lia mempersiapkan barang-barang bawaannya, saya akan memberi sedikit bocoran tentang Bandung. Kota dingin yang menjadi destinasi para pecinta traveling, keindahan alamnya membuat terpesona siapapun yang mendatanginya. Meskipun terkenal dengan sebutan “Bandung Lautan Api” karena kebakaran besar oleh penduduknya sendiri pada tahun 1946. Kala itu sekitar tujuh jam 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka. Hal itu disebabkan karena para penduduk tidak ingin tentara sekutu menjadikan Bandung sebagai markas militer dalam perang kemerdekaan Indonesia. Berbeda dengan hari ini, para remaja menyebutnya “Bandung Lautan Asmara” seperti lagu pengamen dalam bus antar kota.
Kamu sudah lama menunggu waktu ini. Pakaian dan bekal sudah rapih didalam tas hitam besar. Tas warna merah Kamu gantungkan dibahu kiri, isinya perlengkapan make up dan dompet berisi 500 ribu, hasil dari ayam yang telah Kamu pecahkan.
Primajasa nama yang tertera disamping luar bus, yang akan membawamu bertemu dengan kekasihmu. Perjalanan kurang lebih 5 jam akan dilalui, demi pertemuanmu dengan Arga. Tak banyak yang Kamu lakukan didalam bus, kecuali menunggu balasan pesan dari Arga yang Kamu kirim ketika menaiki bus.
“Kanan tiga kiri dua.” Kata kondektur bus. Kamu memilih duduk di kursi samping kiri tengah. Para penumpang mulai berdatangan dan memenuhi kursi yang tersedia. Suara tangis anak kecil disampingmu, dan bunyi klakson mengawali keberangkatan bis. Kira-kira dua kursi kanan depan, Kamu dapati sepasang kekasih. Wajah mereka ceria. Mereka saling menatap, sesekali tersenyum lalu berahir dipundak lelakinya. Kamu yang melihatnya membayangkan akan seperti itu ketika bertemu dengan Arga. Seketika dalam bus sepi, suara bayi menangis telah terobati dengan asi ibunya. Dan Kamu mimilih untuk terlelap.
“Lawi Panjang, Lawi Panjang.” Mendengar suara itu, Kamu terbangun dan bergegas. Barang-barangmu sudah ada disamping bus. Kamu memilih duduk di halte bus warna biru yang mulai lusuh. Menunggu kedatangan Arga menjemputmu. Entah sudah berapa jam Kamu duduk di halte itu, Arga tak juga membalas pesanmu. Tak sadar Kamu sudah menghabiskan makanan ringan yang memang Kamu siapkan untuk perjalanan itu. Sambil menunggu kedatangan Arga yang ternyata ia tak bisa menjemputmu karena ada jam mata kuliah mendadak yang tak bisa ia tinggalkan. Kemudian Arga menyuruhku untuk menjemputmu. Kebetulan aku sedang tidak ada kesibukan hari ini.
Dari samping tempat dudukmu, diam-diam ada yang memperhatikanmu, wajah polosmu yang seperti orang kebingungan, membuat seorang Bapak-bapak menggunakan jaket dan topi hitam dengan berkumis menghampirimu.
“Mau kemana dek?”
“Ke kampus ITB pak.”
“Kebetulan Bapak juga ke arah situ, mau bareng dek?”
Tanpa berfikir panjang, mendengar tawaran tumpangan gratis, Kamu langsug meng-iyakannya, tak sabar ingin buru-buru bertemu dengan Arga. Bapak itu membawakan barang-barangmu dan dimasukkannya ke dalam mobil Avanza silver. “Ayo masuk” Bapak itu membukakan pintu depan mobil. Terjadi beberapa percakapan didalam mobil, dan saling memperkenalkan diri. Kamu nampak senang dan sangat berterimakasih karena telah diberikan tumpangan. “terimakasih banyak, Bapak telah memberi saya tumpangan.”
Jam menunjukkan 12:10. Adzan Dzuhur telah berkumandang. Pak Misnadin memarkir mobilnya di samping mushola al-Ikhlas. Orang-orang biasa berhenti untuk sholat atau sekedar menghilangkan lelah. “Ago Sholat dulu” pak Misnadin keluarin dari Mobil. Merekapun sholat berjemaah. Seusai sholat, Kamu duduk didepan mushola, melihat balasan Arga yang menyuruhku untuk menjemputmu. Mushola itu mulai sepi, Bapak itu tak kunjung kembali, sebelum akhirnya Kamu sadar bahwa kamu telah tertipu. Bapak itu pergi membawa barang-barang bawaanmu dan tak pernah kembali.
Kamu semakin kebingungan, barang-barangmu telah hilang bersama dengan uang yang sudah lama dikumpulkan. Yang tersisa hanya HP digenggamanmu. Aku yang tahu akan hal itu, bergegas menuju mushola yang diberitahu saat kamu menelponku. Beberapa menit kemudian Aku datang. Aku dapati kamu murung, wajahmu suntuk dan bingung. Aku mendekat dan mencoba menyemangatimu.
“Sudahlah Lia, tak usah terlalu difikirkan.” Kita beranjak dan berjalan menuju mobil yang terparkir dipiggir mushola lalu pergi.
***
Niat untuk bertemu kekasimu Arga masih kokoh, tak akan hilang seperti barang-barangmu. Keesokan harinya. Setelah bermalam dirumahku, Kamu memintaku untuk mengantarkanmu bertemu Arga.
Siang itu matahari memudar tertutup awan hitam yang kelam, sinarnya tak terlalu terang tertimbun. “Sepertinya hari ini akan hujan.” Kataku sambil membuka pintu depan mobil, Kamu melangkah dan masuk ke dalam mobil.
“Apakah hari ini Arga libur?” tanyamu.
“Langsung tanya aja.” Kamu merogoh HP disakumu lalu menghubungi Arga, tapi tidak ada jawaban.
Aku membawamu ke Gazebo dekat kampus, tempat Arga biasa mengerjakan tugas-tugasnya. Biasanya juga ditemani oleh sahabat-sahabatnya.
Aku lihat, nampaknya Kamu tidak sabar ingin bertemu Arga, dari dalam mobil Kamu termenung mengingat kenangan kalian berdua, sesekali Kamu tersenyum, kerinduan semakin menghanyutkanmu. “Sebentar lagi sampai Lia” kataku menoleh.
Benar saja, hujan mulai turun. Namun, ada yang berbeda dengan hujan kali ini. Ia tidak hanya mendatangkan basah, tapi juga menutupi pipimu yang basah saat melihat Arga kekasihmu berpelukan dengan seorang perempuan. Tak ada yang tahu tentang itu, begitupun Arga. Dan sejak itu Kamu tidak lagi menghubungi Arga.
Setelah itu, Kamu kembali untuk melanjutkan kuliah. Kamu berharap tidak memberitahu siapapun tentang kejadian itu termasuk tentang Aku yang menjadi pendamping hidupmu.

GSA, 31 Juli 2018
Oleh: MJA

Advertisements

Author: m_alfatoni

Dzikir, Fikir, Amal sholeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s